Menu ✖

Mode Gelap
Breaking News
[wpm_lang_switcher]

kontroversi · 3 Nov 2026 WIB ·

Overthinking menghambat seseorang dalam bertindak, pakar jelaskan penyebabnya


					Overthinking menghambat seseorang dalam bertindak, pakar jelaskan penyebabnya Perbesar

Overthinking menghambat seseorang dalam bertindak, pakar jelaskan penyebabnya

Dengan berpikir matang, seseorang dapat memahami berbagai kemungkinan dan memperkirakan konsekuensi dari pilihan yang akan diambil.

Namun, terlalu banyak berpikir justru dapat membuat seseorang kesulitan menentukan pilihan.

Alih-alih menemukan keputusan terbaik, seseorang bisa terjebak dalam berbagai pertimbangan yang tidak kunjung selesai.

Kondisi ini sering disebut analysis paralysis, yakni keadaan ketika seseorang terlalu banyak menganalisis pilihan hingga akhirnya kesulitan mengambil keputusan.

Dikutip dari Psychology Today, peneliti bidang pengambilan keputusan dari University of Leicester, Eva M. Krockow, Ph.D., menjelaskan bahwa terlalu lama mempertimbangkan pilihan yang hampir serupa dapat memberikan sedikit manfaat.

Pasalnya, hasil dari pilihan-pilihan tersebut mungkin tidak jauh berbeda. Sebaliknya, proses pengambilan keputusan yang terlalu panjang justru berisiko membuat seseorang kehilangan kesempatan.

Lantas, mengapa terlalu banyak berpikir bisa menghambat pengambilan keputusan?

Alasan Overthinking Menghambat Seseorang dalam Bertindak

1. Terjebak dalam terlalu banyak pertimbangan

Salah satu penyebab seseorang sulit mengambil keputusan adalah kebiasaan mempertimbangkan setiap kemungkinan secara berlebihan.

Misalnya, ketika hendak membeli pakaian, seseorang menghabiskan waktu berjam-jam untuk membandingkan dua produk yang sebenarnya memiliki kualitas dan harga hampir sama.

Alih-alih segera menentukan pilihan, ia justru terus memikirkan kelebihan dan kekurangan masing-masing produk.

Menurut Krockow, kebiasaan terus menimbang pilihan yang serupa dapat membuat seseorang tidak kunjung mengambil keputusan. Bahkan, dalam situasi tertentu, kesempatan yang tersedia bisa hilang karena terlalu lama berpikir.

Fenomena ini dikenal sebagai analysis paralysis atau kelumpuhan analisis.

2. Keinginan mendapatkan pilihan yang sempurna

Keinginan untuk mendapatkan hasil terbaik juga dapat membuat seseorang terlalu lama mengambil keputusan.

Dalam artikel tersebut, Krockow menjelaskan bahwa analysis paralysis dapat berkaitan dengan sikap perfeksionis.

Seseorang yang memiliki kecenderungan perfeksionis mungkin merasa harus menemukan pilihan paling tepat sebelum mengambil tindakan.

Akibatnya, ia terus mencari informasi, membandingkan alternatif, dan mempertimbangkan berbagai kemungkinan agar tidak melakukan kesalahan.

Padahal, tidak semua keputusan memiliki pilihan yang benar-benar sempurna. Ada kalanya seseorang perlu menentukan pilihan berdasarkan informasi yang tersedia dan menerima bahwa setiap keputusan memiliki konsekuensi.

3. Terlalu banyak pilihan membuat kewalahan

Banyaknya pilihan yang tersedia juga dapat memperburuk kebiasaan overthinking.

Kondisi ini dikenal sebagai choice overload, yaitu keadaan ketika seseorang merasa kewalahan karena dihadapkan pada terlalu banyak alternatif.

Contohnya, ketika mencari pekerjaan, seseorang mungkin menemukan banyak lowongan dengan kriteria berbeda-beda.

Alih-alih memilih pekerjaan yang paling sesuai dengan kemampuan dan kebutuhannya, ia justru terus membandingkan setiap kesempatan.

Semakin banyak pilihan yang dipertimbangkan, semakin besar pula kemungkinan seseorang merasa bingung dan kesulitan menentukan keputusan.

Dalam situasi seperti ini, membatasi pilihan berdasarkan kebutuhan dan prioritas dapat membantu proses pengambilan keputusan menjadi lebih terarah.

4. Mengganggu kemampuan yang sudah dikuasai

Dampak terlalu banyak berpikir ternyata tidak hanya berkaitan dengan keputusan sehari-hari. Kebiasaan ini bahkan dapat mengganggu kemampuan seseorang dalam melakukan sesuatu yang sebenarnya sudah dikuasai.

Krockow mencontohkan fenomena yips dalam dunia olahraga. Istilah tersebut merujuk pada gangguan performa ketika atlet tiba-tiba kesulitan melakukan gerakan atau keterampilan yang sebelumnya sudah dikuasai dengan baik.

Fenomena ini dapat terjadi pada atlet golf, tenis, maupun kriket.

Dalam penjelasannya, Krockow mengutip penelitian yang melibatkan pemain kriket kompetitif yang pernah mengalami yips.

Sejumlah pemain melaporkan kecemasan dan kepanikan ketika berusaha melakukan gerakan yang sebelumnya terasa alami.

Upaya untuk mengendalikan setiap gerakan secara sadar justru dapat mengganggu koordinasi dan kebiasaan gerak yang sudah terbentuk melalui latihan.

Dengan kata lain, terlalu banyak memikirkan setiap detail tindakan dapat membuat seseorang kehilangan keluwesan dalam melakukan sesuatu.

5. Membuat seseorang kehilangan kesempatan

Salah satu dampak yang perlu diwaspadai dari analysis paralysis adalah hilangnya kesempatan akibat terlalu lama mengambil keputusan.

Dalam kehidupan sehari-hari, situasi ini bisa terjadi ketika seseorang terus mempertimbangkan dua pilihan hingga akhirnya tidak mengambil keduanya.

Misalnya, seseorang terlalu lama memutuskan apakah akan menghadiri dua acara berbeda. Karena tidak kunjung menentukan pilihan, ia justru melewatkan kesempatan untuk menghadiri keduanya.

Hal serupa juga dapat terjadi dalam pekerjaan maupun hubungan pribadi.

Krockow menjelaskan bahwa terlalu lama mempertimbangkan pilihan yang hampir sama tidak selalu memberikan keuntungan sebanding dengan waktu dan energi yang dikeluarkan.

Karena itu, kemampuan mengambil keputusan bukan hanya tentang menemukan pilihan terbaik, tetapi juga mengetahui kapan harus berhenti menganalisis dan mulai bertindak.

Baca artikel menarik lainnya di jogjareport.id.

Artikel ini telah dibaca 0 kali

badge-check

Editorial Team

Baca Lainnya

Taklukkan Stres: 6 Strategi Psikologi untuk Ubah Kewalahan Jadi Produktivitas

2 November 2026 - 14:59 WIB

Trending di Bisnis