Menu ✖

Mode Gelap
Breaking News
[wpm_lang_switcher]

Budaya · 5 Nov 2026 WIB ·

7 alasan mengapa menghindari emosi justru membuat seseorang menjadi semakin kuat menurut psikologi


					7 alasan mengapa menghindari emosi justru membuat seseorang menjadi semakin kuat menurut psikologi Perbesar

  jogjareport.idBanyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa menjadi kuat berarti tidak boleh terlalu emosional. Ketika sedih, mereka berusaha terlihat baik-baik saja. Ketika kecewa, mereka memilih diam. Ketika marah, mereka menahannya rapat-rapat. Bahkan ketika hati sedang terluka, mereka sering berkata kepada diri sendiri, “Tidak apa-apa, aku harus kuat.”

Sekilas, kebiasaan seperti ini mungkin terlihat sebagai tanda ketangguhan.

Namun, psikologi menunjukkan bahwa hubungan manusia dengan emosi jauh lebih kompleks. Ada perbedaan besar antara mengatur emosi dan menghindari emosi. Mengatur emosi berarti seseorang mampu merasakan apa yang muncul di dalam dirinya tanpa membiarkan emosi mengendalikan seluruh tindakannya. Sementara itu, menghindari emosi berarti berusaha menjauh, menekan, menyangkal, atau mengalihkan perhatian dari pengalaman emosional yang tidak nyaman.

Menariknya, ketika seseorang terbiasa menghindari emosi, ia justru dapat memperoleh pengalaman tertentu yang membuatnya tampak semakin kuat. Bukan karena emosi tersebut benar-benar hilang, melainkan karena ia belajar menghadapi ketidaknyamanan, mengenali dirinya sendiri, dan menemukan cara untuk tetap berfungsi meskipun sedang merasakan sesuatu yang berat.

Dengan kata lain, kekuatan emosional tidak selalu lahir dari hidup tanpa rasa sakit. Terkadang, kekuatan muncul karena seseorang belajar bertahan ketika rasa sakit itu hadir.

Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (31/10), terdapat tujuh alasan mengapa proses tersebut dapat membuat seseorang terlihat semakin kuat menurut perspektif psikologi.

1. Menghindari Emosi Membuat Seseorang Belajar Menoleransi Ketidaknyamanan

Emosi seperti sedih, takut, kecewa, malu, atau cemas sering kali terasa tidak nyaman. Secara alami, manusia ingin segera menghilangkan ketidaknyamanan tersebut.

Ketika seseorang merasa sedih, ia mungkin mencari hiburan. Ketika merasa cemas, ia mungkin mencoba mengalihkan pikirannya. Ketika kecewa, ia mungkin memilih tidak membicarakannya.

Dalam jangka pendek, cara tersebut bisa membuat seseorang merasa lebih baik.

Namun, pengalaman berulang menghadapi emosi yang tidak nyaman juga dapat mengajarkan sesuatu: perasaan yang sangat kuat pada akhirnya dapat berlalu.

Seseorang yang pernah melewati masa sulit mungkin mulai memahami bahwa kesedihan tidak berlangsung selamanya. Rasa kecewa bisa berkurang. Ketakutan dapat menjadi lebih terkendali. Bahkan pengalaman kehilangan yang awalnya terasa mustahil untuk dilewati perlahan bisa menjadi sesuatu yang dapat diterima.

Dari sinilah muncul kemampuan yang dalam psikologi sering dikaitkan dengan toleransi terhadap ketidaknyamanan.

Orang yang memiliki toleransi tinggi terhadap ketidaknyamanan tidak berarti mereka tidak merasakan sakit. Mereka justru mampu mengatakan:

“Aku sedang merasa sangat buruk, tetapi aku masih bisa melewati hari ini.”

Kalimat sederhana seperti itu menunjukkan kekuatan psikologis.

Ia tidak membutuhkan kondisi emosional yang sempurna untuk tetap menjalani hidup.

Dan semakin sering seseorang mengalami bahwa dirinya mampu melewati emosi yang sulit, semakin besar pula keyakinannya bahwa ia mampu menghadapi tantangan berikutnya.

2. Menjauh dari Emosi Dapat Membuat Seseorang Lebih Sulit Dikendalikan oleh Perasaan Sesaat

Emosi sangat kuat, tetapi emosi bukan selalu perintah.

Seseorang bisa merasa marah tanpa harus langsung membalas. Ia bisa merasa takut tanpa langsung melarikan diri. Ia bisa merasa kecewa tanpa mengambil keputusan besar secara impulsif.

Ketika seseorang terbiasa menciptakan jarak antara apa yang ia rasakan dan apa yang ia lakukan, ia mulai mengembangkan kemampuan untuk tidak bereaksi secara otomatis.

Misalnya, seseorang mendapatkan pesan yang menyakitkan dari orang yang ia cintai.

Respons pertama mungkin berupa kemarahan.

Ia ingin langsung membalas.

Ia ingin mengatakan sesuatu yang menyakitkan.

Namun, jika ia mampu berhenti sejenak, ia mungkin menyadari:

“Aku sedang marah. Kalau aku membalas sekarang, mungkin aku akan mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin kukatakan.”

Kesadaran tersebut menciptakan ruang antara stimulus dan respons.

Ruang kecil itu sangat penting.

Sebab, kekuatan emosional bukan berarti tidak memiliki emosi. Kekuatan emosional berarti seseorang tidak selalu membiarkan emosi sesaat menentukan keputusan jangka panjang.

Orang seperti ini mungkin tetap merasa marah, tetapi ia tidak harus bertindak berdasarkan kemarahannya.

Ia tetap bisa merasa takut, tetapi tidak selalu membiarkan rasa takut menentukan seluruh hidupnya.

Dengan demikian, seseorang dapat terlihat lebih tenang, lebih terkendali, dan lebih sulit dipancing oleh orang lain.

3. Menghindari Situasi Emosional Tertentu Bisa Membuat Seseorang Lebih Fokus pada Hal yang Bisa Dikendalikan

Tidak semua masalah harus diselesaikan secara emosional.

Ada situasi yang memang membutuhkan tindakan praktis.

Misalnya seseorang kehilangan pekerjaan.

Pada awalnya, ia mungkin merasa takut, kecewa, marah, bahkan malu. Semua perasaan tersebut valid.

Namun, setelah beberapa waktu, ia perlu bertanya:

“Apa yang bisa aku lakukan sekarang?”

Pertanyaan tersebut menggeser fokus dari emosi menuju tindakan.

Ia mungkin mulai memperbarui CV, mencari pekerjaan baru, meningkatkan keterampilan, menghubungi kenalan, atau memperbaiki kondisi keuangan.

Di sinilah terlihat salah satu bentuk kekuatan psikologis: kemampuan membedakan antara sesuatu yang dapat dikendalikan dan sesuatu yang tidak dapat dikendalikan.

Masa lalu tidak bisa diubah.

Perkataan orang lain tidak selalu bisa dikendalikan.

Perasaan orang lain juga bukan tanggung jawab kita sepenuhnya.

Namun, tindakan kita hari ini masih berada dalam ruang kendali kita.

Orang yang terus-menerus tenggelam dalam emosi mungkin menghabiskan banyak energi untuk bertanya mengapa sesuatu terjadi.

Sementara orang yang mampu mengambil jarak dari emosinya dapat mulai bertanya:

“Lalu, apa yang bisa kulakukan sekarang?”

Perubahan pertanyaan tersebut dapat mengubah cara seseorang menghadapi masalah.

4. Pengalaman Menghadapi Emosi Sulit Dapat Membangun Rasa Percaya Diri

Ada jenis kepercayaan diri yang tidak berasal dari pujian.

Kepercayaan diri tersebut muncul karena pengalaman.

Seseorang menjadi yakin bahwa dirinya kuat bukan karena orang lain mengatakan demikian, tetapi karena ia pernah mengalami masa sulit dan berhasil melewatinya.

Misalnya, seseorang pernah mengalami patah hati yang sangat berat.

Pada awalnya, ia mungkin berpikir bahwa dirinya tidak akan pernah bahagia lagi.

Hari-harinya terasa kosong.

Ia sulit tidur.

Ia terus mengingat masa lalu.

Namun beberapa bulan kemudian, ia mulai menjalani hidup kembali.

Ia bekerja.

Bertemu teman.

Menemukan aktivitas baru.

Tertawa lagi.

Dan suatu hari ia menyadari:

“Ternyata aku berhasil melewati itu.”

Pengalaman tersebut menjadi bukti bagi dirinya sendiri.

Ketika masalah baru muncul, ia memiliki referensi internal:

“Aku pernah melewati sesuatu yang sangat berat. Aku mungkin tidak tahu bagaimana masalah ini akan berakhir, tetapi aku tahu bahwa aku mampu bertahan.”

Inilah salah satu sumber ketangguhan yang sangat kuat.

Bukan keyakinan bahwa hidup akan selalu mudah, melainkan keyakinan bahwa jika hidup menjadi sulit, seseorang memiliki kemampuan untuk menghadapinya.

5. Menekan Reaksi Emosional Dapat Membantu Seseorang Mengembangkan Kemandirian

Ada orang yang sejak kecil terbiasa menyelesaikan masalah sendiri.

Ketika menghadapi kesulitan, mereka tidak langsung meminta bantuan.

Mereka belajar mencari solusi.

Mereka belajar mengambil keputusan.

Mereka belajar bertanggung jawab atas pilihan sendiri.

Pengalaman seperti itu dapat membentuk rasa mandiri.

Namun, penting untuk memahami perbedaannya.

Kemandirian bukan berarti tidak membutuhkan siapa pun.

Kemandirian yang sehat berarti seseorang mampu berdiri sendiri, tetapi tetap mengetahui kapan ia membutuhkan bantuan.

Orang yang kuat secara psikologis bukan orang yang berkata:

“Aku tidak membutuhkan siapa pun.”

Melainkan:

“Aku mampu mengurus diriku sendiri, tetapi aku juga tidak malu meminta bantuan ketika memang membutuhkannya.”

Jadi, ketika seseorang belajar tidak langsung bergantung pada orang lain untuk menghilangkan setiap ketidaknyamanan emosional, ia dapat mengembangkan kemampuan regulasi diri.

Ia belajar menenangkan dirinya.

Belajar berpikir.

Belajar mengambil keputusan.

Baca juga: Buku Berkesenian di Tengah Segala Cuaca Diluncurkan 

Belajar menerima bahwa tidak semua masalah bisa segera diperbaiki.

Semua itu dapat membuat seseorang terlihat lebih stabil dalam menghadapi kehidupan.

6. Menjauh dari Drama Emosional Dapat Membuat Seseorang Lebih Selektif dalam Hubungan

Tidak semua konflik membutuhkan respons.

Tidak semua komentar membutuhkan jawaban.

Tidak semua orang harus diyakinkan.

Dan tidak semua hubungan harus dipertahankan.

Ketika seseorang semakin mampu mengelola emosinya, ia mungkin mulai menyadari bahwa terlalu banyak energi dapat terbuang ketika terus-menerus terlibat dalam konflik yang tidak produktif.

Misalnya, seseorang menerima komentar negatif dari orang lain.

Dulu, ia mungkin langsung membalas.

Sekarang, ia memilih diam.

Bukan karena ia tidak mampu membela diri.

Justru karena ia mulai memahami bahwa tidak semua pertarungan layak dimenangkan.

Kemampuan seperti ini dapat membuat seseorang terlihat jauh lebih kuat.

Ia tidak mudah terpancing.

Tidak mudah mencari validasi.

Tidak merasa harus menjelaskan dirinya kepada semua orang.

Tidak merasa harus memenangkan setiap perdebatan.

Dalam psikologi, kemampuan untuk tidak bereaksi secara impulsif dapat menjadi bagian penting dari regulasi diri.

Namun, sekali lagi, diam tidak selalu berarti sehat.

Jika seseorang selalu menekan perasaan, menghindari konflik yang sebenarnya perlu diselesaikan, atau tidak pernah mengungkapkan kebutuhan emosionalnya, masalah justru dapat menumpuk.

Karena itu, kekuatan bukan sekadar kemampuan untuk diam.

Kekuatan adalah mengetahui kapan harus diam dan kapan harus berbicara.

7. Pada Akhirnya, Seseorang Belajar Bahwa Ia Tidak Harus Merasa Baik untuk Tetap Melangkah

Ini mungkin alasan yang paling penting.

Banyak orang mengira bahwa mereka baru bisa bergerak ketika suasana hati sudah membaik.

Mereka menunggu motivasi.

Menunggu rasa percaya diri.

Menunggu ketakutan menghilang.

Menunggu kesedihan selesai.

Padahal, kehidupan sering kali tidak bekerja seperti itu.

Ada saat ketika seseorang harus tetap bekerja meskipun sedang kecewa.

Tetap belajar meskipun sedang tidak termotivasi.

Tetap menjaga dirinya meskipun sedang sedih.

Tetap mengambil langkah kecil meskipun masa depan terasa tidak jelas.

Dari sinilah muncul sebuah pemahaman penting:

Kita tidak selalu harus merasa siap untuk melakukan sesuatu yang penting.

Seseorang dapat merasa takut dan tetap melangkah.

Dapat merasa sedih dan tetap menjalani tanggung jawab.

Dapat merasa kecewa dan tetap membangun masa depan.

Dapat merasa tidak yakin dan tetap mencoba.

Kemampuan untuk bertindak meskipun emosi tidak ideal merupakan salah satu bentuk ketangguhan yang sangat berharga.

Ia membuat seseorang tidak lagi menjadi tawanan suasana hati.

Tetapi Ada Satu Hal yang Perlu Dipahami: Menghindari Emosi Bukan Selalu Hal yang Sehat

Meskipun menghindari emosi tertentu dapat memberikan jarak dan membantu seseorang tetap berfungsi, bukan berarti semakin seseorang menekan emosinya, semakin kuat pula dirinya.

Ini adalah perbedaan yang sangat penting.

Ada perbedaan antara:

“Aku tidak akan membiarkan emosi ini mengendalikan tindakanku.”

dan:

“Aku tidak boleh merasakan emosi ini.”

Kalimat pertama menunjukkan regulasi.

Kalimat kedua bisa menunjukkan penolakan terhadap pengalaman emosional.

Jika seseorang terus-menerus menekan kesedihan, kemarahan, rasa takut, atau rasa kehilangan, emosi tersebut tidak otomatis menghilang. Terkadang, seseorang justru menjadi semakin jauh dari dirinya sendiri.

Ia mungkin terlihat tenang dari luar, tetapi sebenarnya kelelahan di dalam.

Ia mungkin terlihat kuat, tetapi tidak tahu bagaimana mengungkapkan kebutuhannya.

Ia mungkin terlihat tidak peduli, padahal sebenarnya sangat terluka.

Karena itu, kekuatan emosional bukan tentang menjadi manusia tanpa emosi.

Sebaliknya, kekuatan emosional adalah kemampuan untuk mengatakan:

“Aku merasakan ini, tetapi aku tidak harus dikendalikan olehnya.”

Kekuatan Sejati Bukan Berarti Tidak Pernah Terluka

Ada anggapan bahwa orang kuat adalah orang yang tidak menangis, tidak mengeluh, tidak takut, dan tidak membutuhkan siapa pun.

Padahal, manusia tetaplah manusia.

Orang yang paling kuat sekalipun bisa merasa hancur.

Bisa kecewa.

Bisa takut.

Bisa menangis.

Bisa kehilangan arah.

Perbedaannya mungkin terletak pada apa yang mereka lakukan setelah emosi tersebut muncul.

Mereka tidak selalu berusaha menghapus perasaan.

Mereka belajar memahami perasaan tersebut.

Mereka tidak membiarkan satu hari buruk menentukan seluruh hidup mereka.

Mereka tidak membiarkan satu kegagalan menentukan harga diri mereka.

Dan mereka tidak menganggap rasa sakit sebagai bukti bahwa mereka lemah.

Justru terkadang, rasa sakit menjadi guru yang memperlihatkan bagian diri yang sebelumnya tidak pernah mereka kenal.

Kesimpulan

Menghindari emosi dalam arti mengambil jarak dari reaksi emosional yang impulsif dapat membuat seseorang tampak semakin kuat karena ia belajar menoleransi ketidaknyamanan, mengendalikan respons, fokus pada hal yang bisa dikendalikan, membangun kepercayaan diri dari pengalaman, menjadi lebih mandiri, lebih selektif dalam hubungan, dan tetap melangkah meskipun perasaannya sedang tidak baik.

Namun, ada batas penting yang tidak boleh dilupakan.

Kekuatan bukan berarti menghilangkan emosi.

Kekuatan adalah mampu merasakan tanpa tenggelam.

Mampu sedih tanpa kehilangan harapan.

Mampu marah tanpa menghancurkan diri sendiri atau orang lain.

Mampu takut tanpa selalu melarikan diri.

Mampu kecewa tanpa menganggap hidup telah berakhir.

Dan yang paling penting, mampu mengatakan kepada diri sendiri:

“Aku tidak harus merasa baik setiap saat untuk tetap menjadi kuat.”

Pada akhirnya, orang yang benar-benar kuat bukanlah orang yang tidak memiliki emosi.

Ia adalah seseorang yang mengenal emosinya, memahami batas dirinya, dan tetap mampu memilih tindakan yang sesuai dengan nilai hidupnya—bahkan ketika hatinya sedang tidak baik-baik saja.***

Baca artikel menarik lainnya di jogjareport.id.

Artikel ini telah dibaca 0 kali

badge-check

Editorial Team

Baca Lainnya

5 fakta samhainophobia, ketakutan ekstrem terhadap Halloween

5 November 2026 - 10:41 WIB

Arttopia Vol. 2 Hadirkan Nuansa Pantai Selatan di Mall,

24 Oktober 2026 - 10:27 WIB

Arttopia

5 Rekomendasi Kuliner Legendaris Solo yang Lagi Hits 2026, Wajib Dicicipi Kalau Lagi Traveling

24 Oktober 2026 - 06:59 WIB

Rumaket 2026, Upaya Menghidupkan Nilai Tradisi dalam Keseharian

11 Oktober 2026 - 17:17 WIB

Rumaket

Mitos, Nilai Kearifan Lokal Yang Belum Difahami Sains Modern

9 Oktober 2026 - 15:03 WIB

Mitos

Puppet Teater Prancis Succursale 101 Hadir di Kampoeng Media Yogyakarta

8 Oktober 2026 - 12:09 WIB

Trending di art