Menu ✖

Mode Gelap
Breaking News
[wpm_lang_switcher]

Event · 1 Nov 2026 WIB ·

Denyut Kreativitas dan Lingkungan di Jalan Tirtodipuran


					Keramaian Tirtodipuran Street Festival  . ( Foto : Istimewa ) Perbesar

Keramaian Tirtodipuran Street Festival . ( Foto : Istimewa )

KOTA YOGYAKARTA , JOGJAREPORT.ID — Kemeriahan merayapi kawasan Jalan Tirtodipuran pada Sabtu (31/10/2026) ketika helatan Tirtodipuran Street Festival kembali diselenggarakan untuk kedua kalinya. Sejak pagi hari, puluhan warga dari berbagai sudut wilayah berkumpul menyemarakkan ruang terbuka yang disulap menjadi pusat kegiatan ekonomi, seni, dan ajang edukasi lingkungan tersebut.

Perhelatan tahunan ini tidak sekadar menghadirkan keramaian, tetapi juga mempertemukan berbagai lapisan masyarakat untuk saling menopang kreativitas lokal. Beragam tenda dan stan berdiri mengular di sepanjang jalan, menampilkan karya-karya terbaik dari para perajin dan pengusaha kawasan setempat.

Di antara ramainya hilir mudik pengunjung, para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah tampak memamerkan ragam produk unggulan yang sarat akan ide kreatif. Sebanyak 40 UMKM mengambil bagian secara aktif dalam helatan yang dirancang sebagai panggung bersama untuk memperluas jangkauan pasar mereka.

Baca Juga : 125 acara daerah yang masuk Karisma Event Nusantara 2026

Langkah ini mendapat dukungan penuh dari berbagai instansi terkait, mulai dari Dinas Pariwisata hingga Dinas Koperasi dan UKM Kota Yogyakarta. Sinergi yang terjalin erat antara pihak kemantren, kelurahan, dan OPD menjadi fondasi penting bagi bergeraknya roda perekonomian akar rumput di Mantrijeron.

Kehadiran peragaan busana ramah lingkungan atau eco-fashion turut memberikan warna tersendiri di tengah kemeriahan festival yang berlangsung sepanjang hari itu. Kegiatan bernuansa sosialisasi ini diikuti oleh perwakilan dari sembilan kampung yang ada di wilayah Kemantren Mantrijeron dengan membawa pesan penting.

Melalui ajang peragaan busana tersebut, masyarakat diajak untuk melihat kembali potensi barang-barang bekas yang selama ini kerap terabaikan di lingkungan sekitar. Limbah sehari-hari diolah sedemikian rupa hingga mewujud menjadi busana serta aksesori bernilai estetika tinggi yang memukau para penonton.

Mantri Pamong Praja Kemantren Mantrijeron Narotama menegaskan bahwa agenda ini dihadirkan sebagai bentuk kepedulian nyata terhadap isu pengelolaan sampah di wilayah perkotaan. Pihaknya berupaya membangkitkan kesadaran kolektif warga agar lebih bijak dan terampil dalam mengelola limbah rumah tangga sehari-hari.

“Melalui eco-fashion ini kami ingin mengampanyekan kepedulian terhadap lingkungan, terutama persoalan sampah di Yogyakarta. Kami menggerakkan kampung-kampung agar masyarakat semakin sadar bahwa barang bekas bisa menjadi sesuatu yang indah apabila dikelola dengan baik,” jelas Narotama.

Penyelenggaraan festival tahun ini membuktikan keberlanjutan semangat yang telah terbangun sejak hajatan perdana dilaksanakan pada tahun 2025 lalu. Pada helatan pertamanya yang berlangsung selama dua hari, festival tersebut sukses mencatatkan angka transaksi UMKM mencapai lebih dari Rp40 juta.

Capaian positif itu menjadi pemicu semangat bagi penyelenggara untuk mengemas kegiatan tahun 2026 dengan rangkaian acara yang jauh lebih beragam. Rangkaian helatan diawali sejak fajar menyingsing melalui kegiatan senam bersama yang dilanjutkan dengan layanan pemeriksaan kesehatan gratis bagi warga sekitar.

Potensi ekonomi yang terus tumbuh dari jalanan Tirtodipuran ini mendulang apresiasi langsung dari pihak pemerintah kota yang hadir memantau lokasi. Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan secara terbuka menyampaikan pujian atas keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat dan instansi pemerintah setempat.

Wawan menggarisbawahi pentingnya mempertahankan sinergi antardinas agar festival ini memiliki dampak yang semakin luas dan berkesinambungan pada masa mendatang. Kerja sama yang solid dianggap sebagai kunci utama agar festival tidak redup setelah seremonial usai dilaksanakan.

“Ke depan acara hari ini bisa berkelanjutan. Jangan sampai berjalan sendiri-sendiri. Harus ada sinergi dan kolaborasi dengan OPD terkait, seperti Dinas Kebudayaan, Dinas Pariwisata, dan Dinas Koperasi dan UKM, sehingga kegiatan ini bisa semakin besar,” ujarnya.

Tidak berhenti pada pembenahan skala lokal, pemerintah kota juga menaruh harapan besar agar produk warga mampu merambah ke kancah perniagaan internasional.

Kualitas wirausaha kawasan Mantrijeron dinilai memiliki daya saing tinggi apabila mendapatkan dorongan dan pengarahan yang tepat. Guna mewujudkan cita-cita tersebut, skema pembinaan dan kurasi produk bakal disiapkan dengan melibatkan para ahli yang kaya akan pengalaman ekspor.

Baca juga: YK Festisale 2026, Upaya Gerakkan Ekonomi Masyarakat 

Wawan optimis bahwa langkah pendampingan mendalam akan membuka jalan bagi UMKM lokal untuk menembus pasar luar negeri. “Harapan kami produk-produk UKM ini bisa dikembangkan sehingga meilik potensi untuk menembus pasar ekspor,” katanya.

Konsep pengembangan wilayah ke depan juga dirancang agar semakin terintegrasi dengan menggandeng tiga kelurahan yang ada di Mantrijeron. Setiap kelurahan nantinya bakal diberi ruang luas untuk menampilkan karakter unik serta potensi khas kebudayaan daerah masing-masing secara bergiliran.

Dengan pembagian peran yang matang, Tirtodipuran Street Festival diproyeksikan menjadi wadah payung yang memadukan seluruh pergerakan ekonomi dan budaya di tingkat kelurahan. Skala penyelenggaraan yang lebih kolosal diyakini sanggup menyedot perhatian wisatawan serta pengunjung dari luar wilayah Yogyakarta.

Di balik kemegahan panggung dan gagasan besar pemerintah, cerita perjuangan mewujud nyata lewat sosok para perajin yang mengadu nasib di stan-stan pameran. Salah satunya adalah Isma, seorang perajin tekstil yang tekun merintis usahanya sejak tahun 2017 bersama kelompok UMKM Kiwo-Kiwo.

Perempuan gigih ini memamerkan aneka hasil olahan kain indah yang dibuat menggunakan teknik ecoprint, jumputan, hingga kerajinan cap tradisional. Bagi Isma, keberadaan festival semacam ini menjadi celah berharga untuk menjaga nafas usahanya agar tetap berdenyut di tengah persaingan ekonomi.

Kelompok Kiwo-Kiwo yang menjadi wadah bernaungnya kini beranggotakan 10 orang perajin yang saling menguatkan dalam memproduksi dan memasarkan karya. Bergabung dalam wadah komunitas memberikan perlindungan dan kesempatan bagi para pengusaha kecil untuk tampil di ajang publik secara bersama-sama.

Baca Juga : Event Pamijo Ke-3, Tasneem Hotel Gandeng Komunitas Difabel

Keterbatasan legalitas formal seperti kepemilikan Hak Atas Kekayaan Intelektual tidak menjadi penghalang mutlak bagi Isma untuk terus berkarya. Melalui sistem kebersamaan di dalam kelompok, akses menuju pameran dan festival skala kota tetap terbuka lebar bagi usahanya.

“Saya masih memiliki keterbatasan, belum mempunyai HAKI. Kalau melalui kelompok Kiwo-Kiwo, kami masih bisa ikut kegiatan bersama,” ungkapnya.

Kendati terus melangkah, tantangan berupa keterbatasan modal usaha serta minimnya penguasaan teknologi digital masih sering menghambat laju perkembangan usaha kecil. Isma sangat mengharapkan adanya uluran tangan pemerintah berupa bantuan pendampingan teknis yang konsisten dan berkelanjutan bagi pelaku usaha berskala mikron.

Sebagai seorang ibu rumah tangga, dorongan untuk membantu perekonomian keluarga menjadi motivasi terkuatnya untuk pantang menyerah menghadapi segala rintangan. Kemandirian finansial menjadi cita-cita sederhana yang terus diperjuangkannya lewat lembaran kain ecoprint yang dibuatnya penuh ketelitian.

“Sebagai ibu rumah tangga, saya ingin memiliki penghasilan sendiri, jadi tetap berusaha mengembangkan usaha ini,” katanya.

Artikel ini telah dibaca 0 kali

badge-check

Editorial Team

Baca Lainnya

Raffi Ahmad : Saya Minta Maaf !

1 November 2026 - 11:20 WIB

Raffi

Agenda Menarik di Jogja City Mall Sepanjang November 2026

1 November 2026 - 10:23 WIB

Agenda

Jika Ingin Mencari Teman Dewasa, Lakukan Saja Ini !

1 November 2026 - 09:28 WIB

3.229 Personel Gabungan Amankan Konser Andrea Bocelli

1 November 2026 - 04:24 WIB

Andrea Bocelli

Diwarnai Aksi Boikot, RANS Carnival Tetap Berlangsung di Stadion Maguwoharjo

31 Oktober 2026 - 22:16 WIB

Rans Carnival

Kue Kamir Khas Pemalang, Kelezatannya  Tak Tertandingi

31 Oktober 2026 - 10:18 WIB

Kamir
Trending di Food & Travel