PEMALANG, JOGJAREPORT.ID — Jika anda berkunjung ke Pemalang, jangan lupa mencicipi Kue Kamir. Makanan ini merupakan salah satu jajanan khas Pemalang, kebanyakan dibuat oleh masyarakata keturunan arab di kota Pemalang. Konon, keberadaan kue kamir nyaris sama tuanya dengan keberadaan etnis Arab di kota tersebut.
Sentra produksi Kue Kamir ada di kelurahan Mulyoharjo, Kecamatan Pemalang. Wilayah ini oleh masyarakat setempat sering disebut kampung arab di Pemalang. Salah satu pengusaha yang telah lama menekuni usaha ini adalah Ali Abdullah (62). Bahkan Ali dikenal sebagai keluarga pelopor pembuat kue Kamir di Pemalang.
Ali merupakan generasi ke tiga dari keluarga pembuat kamir. Ali Abdullah yang biasa disapa Abah Ali sudah lebih dari 20 tahun membuat kamir. Di tempat Abah Ali ada dua jenis kamir, kamir terigu dan kamir beras.”Saya seringnya membuat kamir terigu, kalau kamir beras tidak tahan lama. Jadi buatnya cuma berdasarkan pesanan,”terang Abah Ali.
Bahan-bahan untuk membuat kue kamir terdiri dari adonan terigu, mentega, pisang ambon, tape dan telur. Kemudian diaduk dalam satu adonan dan didiamkan hampir semalaman. Nama kamir berasal dari bahasa arab yang mempunyai makna ragi. Karena ada proses fermentasi supaya bisa mengembang, mungkin orang arab memberi nama sesuai dengan proses pembuatannya.
Baca Juga : Food trip ke Likupang, destinasi bahari yang punya banyak cerita di balik keragaman kulinernya
Warung Kue Kamir Abah Ali dibuat menyatu dengan tempat membuat kamir, supaya pembeli bisa tahu dan melihat cara pembuatan kamir. Kompor berjejer dengan cetakan kamir diatasnya siap untuk menerima adonan yang sudah jadi. Itulah pemandangan di warung kamir milik Abah Ali.
Setiap harinya, Abah Ali mampu menjual sekitar 2000 kamir setiap harinya. Dan akan menjadi berkali lipat saat liburan dan hari besar.”Bisa sampai 4000 kamir perhari saat musim liburan,” ujar Abah Ali
Baca juga: 6 Tempat Makan Restoran Hits Di Lumajang
. Harga satu kue kamir Rp. 1.000. menggunakan merk “Mawar Chamidah”, kue kamir Abah Ali mampu memikat banyak lidah yang mencicipnya. Pasarnya juga semakin luas, selain dititipkan di toko-toko jajan, Abah Ali juga membuka gerai sendiri di depan sebuah mini market di kota Pemalang. Belum lagi melayani pesanan dari luar kota seperti, Tegal dan Pekalongan. Alhamdulillah berkah pokoknya,”ujar Abah Ali Bersyukur
Selain di dalam negeri, kue kamir “Mawar Chamidah” sering dibawa ke luar negeri untuk oleh-oleh. Kebanyakan para mahasiswa yang kuliah di luar negeri kalau pulang liburan pesan kamir untuk dibawa ke negara tempatnya kuliah.”Kue kamir buatan saya sudah sampai ke Belanda dan Malaysia,”terang Abah Ali bangga. (*/)







