Jas, Tas Kerja, dan Catatan Harian Itu Menyimpan Sejarah Bangsa
YOGYAKARTA,JOGJAREPORT.ID — Sebuah jas yang pernah dikenakan seorang kepala negara, tas kerja yang menemani perjalanan dinas, sepatu yang digunakan dalam aktivitas kenegaraan, hingga catatan harian yang merekam pemikiran pribadi.
Benda-benda itu mungkin tampak sederhana. Namun, ketika pemiliknya adalah Sri Sultan Hamengku Buwono IX, setiap benda menyimpan cerita tentang perjalanan sejarah Indonesia.
Kini, jejak personal Sultan HB IX yang dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam perjalanan Republik Indonesia itu kembali ditelusuri. Museum Kepresidenan Balai Kirti di Bogor, Jawa Barat, berupaya menemukan sejumlah peninggalan Sri Sultan HB IX, terutama benda-benda yang berkaitan dengan masa pengabdiannya sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia periode 1973–1978.
Penelusuran tersebut bukan sekadar upaya mengumpulkan barang antik. Ada kepentingan yang lebih besar, yakni menghadirkan sejarah melalui benda-benda yang pernah menjadi bagian dari kehidupan seorang tokoh bangsa.
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menyatakan dukungannya terhadap upaya tersebut. Saat menerima kunjungan Kepala Museum dan Cagar Budaya Kementerian Kebudayaan, Indira Estiyanti Nurjadin, di Gedhong Wilis, Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Jumat (30/10/2026), Sultan memberikan izin kepada pihak museum untuk menelusuri benda-benda peninggalan ayahandanya.
“Kepentingannya memang itu, nanti kita cari benda yang terkait pada waktu (Sri Sultan Hamengku Buwono IX) menjabat sebagai wakil presiden,” ujar Sri Sultan HB X.
Bagi Museum Kepresidenan Balai Kirti, koleksi tersebut akan menjadi bagian penting dalam pengembangan tata pamer baru. Selama ini, museum yang berada di Kompleks Istana Kepresidenan Bogor tersebut menampilkan perjalanan sejarah para Presiden Republik Indonesia.
Melalui revitalisasi, ruang sejarah itu akan diperluas dengan menghadirkan perjalanan para Wakil Presiden beserta pendampingnya.
Indira menjelaskan, pihaknya datang ke Yogyakarta untuk meminta dukungan keluarga Keraton agar dapat memperoleh koleksi yang berkaitan dengan kiprah para Wakil Presiden.
“Kehadiran kami ini untuk meminta koleksi agar melengkapi tata pamer baru yang akan ada koleksi Wakil Presiden-Wakil Presiden,” katanya.
Benda sederhana, cerita luar biasa
Jas, tas kerja, sepatu, kacamata, bolpoin, dan catatan harian menjadi sejumlah benda yang sedang ditelusuri. Benda-benda tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran lebih dekat tentang kehidupan Sri Sultan HB IX ketika menjalankan tugas kenegaraan.
Di balik sebuah jas, misalnya, tersimpan gambaran tentang penampilan seorang pemimpin dalam menjalankan tugas resmi. Tas kerja dapat menjadi pengingat aktivitas dan mobilitas seorang Wakil Presiden. Sementara catatan harian berpotensi membuka jendela untuk memahami pemikiran, perhatian, serta sisi personal seorang tokoh.
Tentu, nilai sejarah benda-benda tersebut tidak semata-mata terletak pada usia atau bentuk fisiknya. Hubungan dengan pemilik, konteks penggunaan, serta autentisitas menjadi bagian penting yang perlu ditelusuri.
Di sinilah tantangan pekerjaan museum. Sebuah benda tidak cukup hanya dipajang dalam etalase. Pengunjung membutuhkan cerita yang menjelaskan siapa pemiliknya, kapan benda itu digunakan, dan peristiwa apa yang berkaitan dengannya.
Sultan yang mengabdikan diri untuk Republik
Sri Sultan Hamengku Buwono IX lahir di Yogyakarta pada 12 April 1912 dengan nama Gusti Raden Mas Dorodjatun. Ia dinobatkan sebagai Sultan Yogyakarta pada 18 Maret 1940.
Baca juga: 12 Tips Agar Selalu Mimpi Indah Setiap Malam
Sejarah mencatat, HB IX bukan hanya seorang raja yang memimpin Kasultanan Yogyakarta. Ia juga mengambil peran penting dalam perjalanan Republik Indonesia sejak awal kemerdekaan.
Pada 5 September 1945, bersama Sri Paduka Paku Alam VIII, Sultan mengeluarkan maklumat yang menegaskan kedudukan Yogyakarta sebagai bagian dari Republik Indonesia.
Ketika ibu kota Republik Indonesia berada di Yogyakarta pada masa revolusi, dukungan Sultan terhadap pemerintahan republik menjadi bagian penting dalam mempertahankan kemerdekaan.
Pengabdiannya kemudian berlanjut dalam pemerintahan nasional. Ia pernah menduduki sejumlah jabatan penting sebelum dipercaya menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia pada 1973 hingga 1978.
Di luar pemerintahan, HB IX juga dikenal sebagai tokoh kepanduan Indonesia dan memperoleh sebutan Bapak Pramuka Indonesia.
Atas jasa-jasanya kepada bangsa dan negara, Sri Sultan HB IX dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 1990.
Menghidupkan sejarah melalui benda
Upaya Museum Kepresidenan Balai Kirti menelusuri peninggalan HB IX memberikan perspektif baru dalam mengenalkan sejarah kepada masyarakat.
Selama ini, masyarakat lebih banyak mengenal sosok HB IX melalui foto, buku sejarah, pidato, dan dokumentasi resmi. Kehadiran benda-benda personal dapat menghadirkan pengalaman berbeda. Sejarah tidak lagi hanya dibaca melalui tanggal dan peristiwa, tetapi juga didekati melalui jejak kehidupan manusia yang menjalaninya.
Museum merencanakan revitalisasi tata pamer mulai November 2026 dan menargetkan penyelesaiannya pada Januari 2027. Indira berharap ruang pamer baru tersebut sudah dapat dibuka untuk publik pada awal 2027.
Jika penelusuran berhasil menemukan benda-benda yang autentik dan memiliki keterkaitan langsung dengan masa jabatan HB IX sebagai Wakil Presiden, masyarakat akan memperoleh kesempatan melihat sisi lain dari perjalanan hidup sang Sultan.
Sebab, sejarah besar sebuah bangsa tidak selalu hanya tersimpan dalam dokumen kenegaraan atau monumen megah. Terkadang, sejarah justru hadir melalui benda sederhana yang pernah digunakan seseorang.
Sebuah jas, sepasang sepatu, atau catatan harian bisa menjadi penghubung antara generasi sekarang dengan perjalanan panjang seorang tokoh yang pernah mengabdikan hidupnya untuk Yogyakarta dan Indonesia.







