Menu ✖

Mode Gelap
Breaking News
[wpm_lang_switcher]

Budaya · 6 Nov 2026 WIB ·

Festa, Menjaga Nyala Tradisi Ruang Ekspresi Kota


					Festa, Menjaga Nyala Tradisi  Ruang Ekspresi Kota Perbesar

YOGYAKARTA, JOGJAREPORT.ID – Alunan nada raras karawitan bergema manis di kawasan Taman Budaya Embung Giwangan saat Festival Jogja Kota ( FESTA)  2026 resmi bergulir. Perhelatan  yang digelar oleh Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta pada Jumat dan Sabtu, 6 sampai 7 November 2026 ini menjadi panggung hangat bagi para penjaga tradisi.

Festival tahunan ini menghadirkan beragam agenda, mulai dari seni pertunjukan pertunjukan hingga apresiasi bagi sosok-sosok yang setia merawat warisan sejarah. Pemerintah Kota Yogyakarta menjadikan ajang ini sebagai sarana memperkuat identitas budaya sekaligus melibatkan masyarakat secara luas.

Baca Juga :Rumaket 2026 , Hadirkan Warisan Budaya dalam Bahasa Generasi Masa Kini

Sejak hari pertama, dinamika pelestarian itu terasa nyata lewat pementasan Resital Seni Pertunjukan Karawitan bertema Sumekar Swaraning Raras. Sebanyak 40 pengrawit perempuan muda berusia 15 hingga 25 tahun dari seluruh sudut Kota Yogyakarta tampil memukau menabuh gamelan.

Kehadiran para pemudi ini membuktikan bahwa proses regenerasi penabuh gamelan terus berlangsung tanpa kehilangan daya pikatnya. Lewat jemari mereka, seni tradisi kembali menemukan napas segar di tengah gempuran zaman modern.

Festa

Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menegaskan bahwa pemerintah terus mengupayakan penanda yang memperjelas identitas Yogyakarta sebagai kota budaya dan pariwisata. Penanda tersebut tidak selalu diwujudkan dalam wujud fisik, melainkan melalui ekspresi seni nonbenda yang dibangun bersama para pelaku budaya.

“Kami berharap dukungan para seniman dan budayawan untuk bersama-sama membesarkan karya-karya budaya di Yogyakarta. Pemerintah ingin membuka ruang yang lebih luas agar kreativitas dan karya para pelaku budaya dapat tumbuh, dikenal, dan memberikan dampak yang lebih besar,” ujar Hasto.

Ia menambahkan bahwa kolaborasi erat antara pemerintah, komunitas, dan warga sangat dibutuhkan untuk merawat pengetahuan masa lalu. Tempat-tempat seperti museum dan museum buku disiapkan sebagai ruang belajar agar generasi muda memiliki kedekatan langsung dengan kebudayaan lokal.

Senada dengan hal itu, Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta Yetti Martanti menekankan pentingnya peran orang-orang yang bekerja melestarikan tradisi. Menurutnya, warisan masa lalu membutuhkan perhatian dan kesetiaan penuh dari seluruh elemen masyarakat.

“Kebudayaan tidak hidup hanya karena diwariskan. Ia tetap hidup karena ada orang-orang yang merawatnya, dengan kesetiaan, kerja, dan kecintaan yang sering kali berjalan dalam sunyi.

Ada seniman yang terus berkarya, warga yang menjaga bangunan bersejarah, serta komunitas yang menghidupkan tradisi. Mereka adalah bagian penting dari perjalanan kebudayaan Kota Yogyakarta,” ujar Yetti.

Sebagai bentuk penghormatan nyata, Pemerintah Kota Yogyakarta menyerahkan Apresiasi Pelestarian Warisan Budaya dan Cagar Budaya Tahun 2026 kepada sepuluh pengelola objek bersejarah.

Penerima penghargaan tersebut meliputi Tugu Jam Margamulya di Malioboro, Los Pasar Pabringan di Pasar Beringharjo, Museum Dewantara Kirti Griya, Masjid Sulthonain Nitikan, dan Indraloka Homestay.

Baca Juga :Dolanan, Jalan Pulang Anak Mengenal Budaya.

Penghargaan serupa juga dianugerahkan kepada Gereja Katolik Hati Kudus Tuhan Yesus Pugeran, Ndalem Kertonegaran, Pancuran Donotirto Bumijo, SMA Negeri 1 Yogyakarta, serta Ruang Seni Mustokoweni. Seluruh penerima dinilai berhasil mempertahankan keaslian bangunan dan memberi manfaat sosial pendidikan, sehingga mendapatkan plakat, piagam, serta dana pembinaan sebesar Rp 12.500.000.

Baca juga: Inilah 5 Weton Kerajaan. Yang Memiliki Berbakat Jadi Orang Super Kaya

Penilaian atas kriteria kelayakan cagar budaya tersebut dilakukan oleh tim juri profesional yang terdiri atas Drs. Budhy Sancoyo, M.A., Azis Yon Haryono, S.T., M.Sc., dan Ribut Raharjo.

Penghargaan ini diharapkan dapat memperkuat kesadaran masyarakat dalam menjaga nilai-nilai sejarah di sekitarnya. Tidak hanya cagar budaya fisik, apresiasi juga diberikan kepada lima individu yang mendedikasikan hidup mereka untuk dunia kesenian.

Penerima Penghargaan Seniman dan Budayawan Tahun 2026 tersebut mencakup Butet Kartaredjasa sebagai Maestro Seni Pertunjukan dan Totok Pratopo sebagai Pelaku dan/atau Pelestari Adat Tradisi. Selain itu, Mochamad Djohansyah atau Sawung Jabo menerima penghargaan sebagai Pelaku Seni Pertunjukan Kontemporer, Ign.

Wahono sebagai Pelaku Seni Pertunjukan Tradisi, serta Paksi Raras Alit sebagai Pelaku Seni Sastra/Literasi. Tokoh-tokoh ini dinilai oleh dewan juri Dr.Octo Lampito, M.Pd., R.M. Altiyanto Henryawan, dan Dr.Suwarno Wisetrotomo, serta berhak memperoleh dana pembinaan Rp 15.000.000 beserta piagam.

Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menyerahkan secara langsung seluruh penghargaan tersebut di atas panggung kehormatan.

Penghargaan ini menjadi penegas bahwa pengabdian para tokoh seni mendapat tempat tertinggi dalam pembangunan karakter kota. “Ukuran keberhasilan merawat kebudayaan bukan semata-mata seberapa banyak yang berhasil kita pertahankan, melainkan seberapa jauh warisan itu tetap memberi arti bagi kehidupan,” katanya.

Keseruan festival berlanjut pada Jumat malam melalui Gelar Potensi  yang menampilkan kolaborasi seni dari empat Kawasan Cagar Budaya, yakni Pakualaman, Kraton, Kotagede, dan Kotabaru. Sebanyak 36 rintisan kelurahan budaya membawakan seni pertunjukan khas yang memancarkan daya pikat wilayah masing-masing.

Suasana semakin semarak dengan kehadiran Warung Kota yang menjajakan rupa-rupa produk kuliner khas dan kerajinan tangan warga. Ajang ini menjadi wadah strategis untuk mengangkat potensi ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.

Pada hari kedua, Sabtu 7 November 2026, kawasan Embung Giwangan diramaikan oleh gelaran Festival Bregada rakyat. Perwakilan bregada dari seluruh rintisan kelurahan budaya se-Kota Yogyakarta tampil berbaris memperlihatkan ketangkasan dan kekhasan seni prajurit rakyat.

Atraksi ini dikompetisikan dengan menyediakan total hadiah pembinaan sebesar Rp 7.500.000 bagi para pemenang. Juara pertama akan membawa pulang Rp 3.000.000, juara kedua mendapatkan Rp 2.500.000, dan juara ketiga memperoleh Rp 2.000.000.

Festa

Rangkaian kegiatan ini membuktikan bahwa denyut tradisi di Yogyakarta masih terawat erat di tengah pemukiman warga. Kebudayaan bergerak menyatu dalam aktivitas keseharian masyarakat kota.

“Kota Yogyakarta tidak hanya perlu mewariskan kebudayaan kepada generasi berikutnya. Kita perlu memastikan generasi berikutnya memiliki alasan untuk mencintai dan melanjutkannya,” ujar Yetti.

Artikel ini telah dibaca 0 kali

badge-check

Editorial Team

Baca Lainnya

JCWF 2026 Resmi Dihelat, Perkuat Daya Tarik Wellness Tourism Yogyakarta

6 November 2026 - 22:16 WIB

KAI Gelar Rail Heritage Forum 2026 di Lawang Sewu,

6 November 2026 - 20:37 WIB

Rail

Ini bedanya hujan meteor Taurid Utara dan Taurid Selatan!

6 November 2026 - 14:23 WIB

Sering pulang pesta diam-diam? Sains ungkap 5 karakter unik ini!

6 November 2026 - 04:35 WIB

Mendekatkan Layanan SIM Ke Masyarakat

5 November 2026 - 13:43 WIB

SIM

Jokowi Tepati Janji. Tunjukkan Ijazah Asli Dipersidangan

5 November 2026 - 13:19 WIB

Ijazah
Trending di Headline