SLEMAN, JOGJAREPORT.ID – Sebuah kendi berisi air menjadi pusat perhatian masyarakat Padukuhan Ngepos, Kalurahan Lumbungrejo, Kapanewon Tempel, Sleman, Kamis (29/10/2026) malam. Bukan sekadar wadah air biasa, kendi tersebut membawa pesan tentang rasa syukur, persatuan, dan harapan masyarakat terhadap masa depan kampung mereka.
Air di dalam kendi itu berasal dari tujuh sumber mata air yang berada di wilayah Padukuhan Ngepos. Setelah disatukan, air tersebut diarak mengelilingi padukuhan dalam tradisi bertajuk Kirab Tirto Kamulyan Jati, bagian dari rangkaian perayaan Merti Dusun.
Di tengah perubahan zaman, masyarakat Ngepos memilih mempertahankan tradisi sebagai bagian dari identitas sekaligus pengikat kehidupan sosial. Tujuh mata air yang disatukan bukan hanya menjadi simbol ritual, tetapi juga pengingat tentang pentingnya sumber kehidupan yang harus dijaga bersama.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan Surah Yasin dan doa keselamatan. Setelah itu, warga melaksanakan kirab kendi berisi air dari tujuh sumber mata air. Suasana kebersamaan terasa dalam prosesi yang melibatkan masyarakat setempat tersebut.
Dukuh Ngepos, Imam Muhlasin, menjelaskan bahwa penyatuan air dari tujuh sumber merupakan inti dari prosesi kirab.
“Kirab ini merupakan penggabungan tujuh sumber mata air di padukuhan ini yang kemudian disatukan dalam bentuk kendi untuk dikirab keliling padukuhan,” ujar Imam.
Nama Tirto Kamulyan Jati sendiri memiliki makna khusus. Tirto berarti air, sedangkan Kamulyan Jati mengandung harapan akan kemuliaan sejati. Melalui tradisi tersebut, masyarakat berharap kehidupan warga Ngepos dan Kalurahan Lumbungrejo senantiasa memperoleh kebaikan.
“Tirto Kamulyan Jati sendiri bermakna sumber mata air yang diharapkan membawa kemuliaan sejati bagi seluruh warga Ngepos khususnya dan Lumbungrejo pada umumnya,” katanya.
Menjaga Warisan, Menghidupkan Kesenian
Merti Dusun Ngepos diperingati setiap 28 Oktober. Namun, pelaksanaan kegiatan dapat menyesuaikan kesepakatan panitia dan tokoh masyarakat agar seluruh rangkaian acara bisa dipersiapkan dengan baik.
Tahun ini, perayaan tidak berhenti pada kirab malam hari. Puncak kegiatan dijadwalkan berlangsung Sabtu mendatang dengan menghadirkan sejumlah kesenian tradisional yang tumbuh dan berkembang di lingkungan masyarakat.
Karawitan Laras Madyo, Bancak Doyok, jathilan Dhemit Krasak, warokan, hingga ketoprak humor akan menjadi bagian dari pertunjukan.
Baca Juga :Kirab Beksan Trunajaya Warnai Kawasan Malioboro
Beragam kesenian tersebut menunjukkan bahwa Merti Dusun bukan hanya kegiatan seremonial. Tradisi ini juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk mempertahankan kesenian lokal, mempertemukan generasi tua dan muda, sekaligus memberi kesempatan kepada para pelaku seni untuk tampil di tengah masyarakat.
Imam berharap rangkaian kegiatan tersebut menjadi wujud syukur atas terselenggaranya Merti Dusun tahun ini sekaligus memperkuat kebersamaan warga.
Dari Tradisi Menuju Kemandirian Ekonomi
Di balik nilai budaya yang dijaga, Merti Dusun Ngepos juga menyimpan harapan lebih luas. Tradisi dan kesenian lokal diharapkan dapat menjadi modal sosial untuk mengembangkan potensi ekonomi masyarakat.
Baca juga: Nglarak Blarak, Permainan Kerakyatan Khas Kulon Progo
Lurah Lumbungrejo, M. Misbach Al Hakim, melihat posisi geografis Ngepos sebagai salah satu keunggulan yang bisa dikembangkan. Padukuhan ini berada di jalur nasional dan tidak jauh dari Pasar Tempel.
Lokasi strategis tersebut membuka peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan berbagai aktivitas ekonomi. Kegiatan budaya yang melibatkan banyak orang juga dapat menjadi momentum memperkenalkan potensi wilayah dan produk masyarakat setempat.
“Ini menjadi salah satu harapan kita agar masyarakat Padukuhan Ngepos bisa menjadi pelaku ekonomi di wilayahnya sendiri, tidak hanya menjadi penonton di wilayahnya sendiri,” kata Misbach.
Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam memanfaatkan potensi daerah. Keberadaan jalur transportasi dan pasar tidak akan memberikan dampak optimal apabila warga setempat hanya menjadi penonton dari aktivitas ekonomi yang berlangsung di lingkungannya.
Pemerintah Kalurahan Lumbungrejo turut memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan tradisi tersebut. Dari total Bantuan Keuangan Khusus (BKK) sebesar Rp25 juta yang diterima kalurahan, Rp5 juta dialokasikan untuk menunjang kegiatan Merti Dusun di setiap padukuhan.
Menurut Misbach, hampir seluruh padukuhan di wilayah Lumbungrejo menyelenggarakan kegiatan serupa. Dukungan anggaran tersebut diharapkan membantu masyarakat menjaga keberlangsungan tradisi sekaligus memperkuat aktivitas sosial di tingkat lokal.
Air sebagai Simbol Masa Depan
Kirab tujuh mata air di Ngepos membawa pesan yang melampaui sebuah perayaan tahunan. Air menjadi simbol kehidupan, sementara kendi yang menyatukan tujuh sumber menggambarkan pentingnya kebersamaan dalam membangun masa depan.
Tradisi tersebut memperlihatkan bagaimana warisan budaya dapat berjalan beriringan dengan gagasan pemberdayaan masyarakat. Kesenian tetap hidup, hubungan sosial terpelihara, dan peluang ekonomi lokal mulai mendapat perhatian.
Baca Juga : Kirab Para Pemeran ” Danyang Wingit Jumat Kliwon ” Gegerkan Jogja City Mall
Tantangannya adalah bagaimana semangat yang tumbuh dalam Merti Dusun dapat diteruskan menjadi kegiatan nyata sepanjang tahun. Potensi lokasi, kesenian, dan kebersamaan warga membutuhkan pengelolaan berkelanjutan agar memberikan manfaat lebih luas.
Bagi masyarakat Ngepos, kemuliaan sejati yang terkandung dalam nama Tirto Kamulyan Jati bukan sekadar harapan yang diarak dalam kendi. Maknanya juga terletak pada kemampuan warga menjaga sumber kehidupan, merawat warisan leluhur, dan bersama-sama membangun kampung yang lebih mandiri.







