JOGJAREPORT.ID,BEKASI – Pertumbuhan kawasan hunian, pusat aktivitas bisnis, serta pergerakan ekonomi di sekeliling wilayah Jakarta telah mendorong melonjaknya kebutuhan transportasi antar kota. Ritme keseharian masyarakat komuter kini makin mengular hingga ke stasiun-stasiun penyangga Ibu Kota seperti Bekasi, Cikarang, dan Jatinegara yang kian diandalkan sebagai simpul keberangkatan maupun titik kedatangan pelanggan kereta api jarak jauh.
Berdasarkan data PT Kereta Api Indonesia (Persero), catatan naik dan turun penumpang kereta api jarak jauh di Stasiun Bekasi pada periode Januari hingga Oktober 2026 menembus 2.364.801 aktivitas. Angka pergerakan tersebut menunjukkan lonjakan sebesar 9,76 persen jika dibandingkan dengan periode serupa pada tahun 2025 yang tercatat sebanyak 2.154.519 aktivitas.
Lonjakan volume pengguna di stasiun tersebut menghasilkan selisih kenaikan sebanyak 210.282 aktivitas naik dan turun hanya dalam rentang sepuluh bulan pertama tahun ini. Kondisi ini mencerminkan tingginya ketergantungan warga di kawasan penyangga terhadap konektivitas transportasi berbasis rel.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menjelaskan , pergeseran grafik naik dan turun penumpang memperlihatkan arti penting integrasi stasiun yang lebih dekat dengan permukiman warga. Kemudahan titik akses menjadi faktor utama yang mempermudah warga dalam mengatur jadwal mobilitas harian mereka.
“Perjalanan antarkota semakin berkembang mengikuti kebutuhan mobilitas masyarakat. Bagi pelanggan yang tinggal atau beraktivitas di Bekasi dan sekitarnya, ketersediaan layanan kereta api dari stasiun terdekat memberikan lebih banyak pilihan dalam merencanakan perjalanan, termasuk untuk bekerja, mengunjungi keluarga, maupun kegiatan lainnya,” ujar Anne seperti dikutip redaksi, Sabtu (7/11/2026).
Selanjutnya Anne menambahkan, Kecenderungan lonjakan penumpang kereta api jarak jauh juga terekam jelas di Stasiun Jatinegara serta Stasiun Cikarang. Selama sepuluh bulan pertama di tahun 2026, volume naik dan turun penumpang di Stasiun Jatinegara mencapai angka 1.562.963 aktivitas.
Baca Juga :KAI Tutup Perlintasan Liar di Ambar Ketawang
Capaian di Stasiun Jatinegara tersebut mengalami pertumbuhan sekitar 11,46 persen bila dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya sebanyak 1.402.212 aktivitas.
Sementara itu, Stasiun Cikarang membukukan 708.640 aktivitas naik dan turun pelanggan, naik 3,54 persen dari angka 684.442 aktivitas pada periode Januari–Oktober 2025.
Bila diakumulasikan, total pergerakan naik dan turun penumpang kereta jarak jauh pada ketiga stasiun penyangga tersebut menembus angka 4.636.404 aktivitas sepanjang kurun Januari sampai Oktober 2026. Jumlah gabungan itu merekam peningkatan sebanyak 395.231 aktivitas atau tumbuh 9,32 persen dibandingkan masa sepuluh bulan pertama tahun lalu.
“Peningkatan aktivitas di ketiga stasiun ini menjadi salah satu gambaran bahwa kebutuhan akses perjalanan antarkota semakin tersebar. Pengembangan layanan perlu mengikuti persebaran tersebut agar masyarakat memiliki alternatif keberangkatan dan kedatangan yang sesuai dengan kebutuhannya,” tandas Anne.
Di luar fungsinya melayani perjalanan antarkota, Stasiun Bekasi, Cikarang, dan Jatinegara memegang peranan krusial dalam menyokong pergerakan penumpang Commuter Line di area Jabodetabek. Lalu lintas komuter di ketiga simpul tersebut menyumbang porsi terbesar dari keseluruhan aktivitas gerbang elektronik.
Merujuk pada catatan performa kurun Januari–Oktober 2026, akumulasi aktivitas gate in dan gate out Commuter Line di Stasiun Bekasi menyentuh 19.508.891 pergerakan. Di saat bersamaan, Stasiun Cikarang mencatat sebanyak 12.719.884 aktivitas dan Stasiun Jatinegara membukukan 5.761.600 aktivitas pergerakan pelanggan komuter.
Secara keseluruhan, pemanfaatan gerbang elektronik untuk layanan Commuter Line di ketiga stasiun itu menembus angka 37.990.375 aktivitas selama rentang sepuluh bulan awal tahun 2026. Tingginya angka tersebut mempertegas fungsi strategis stasiun penyangga sebagai penghubung harian warga perkotaan.
“Mobilitas masyarakat di kawasan Jakarta dan sekitarnya memiliki pola yang beragam. Ada pelanggan yang menggunakan Commuter Line untuk aktivitas harian, sementara pada kesempatan lain membutuhkan perjalanan antarkota.
Baca juga: Selama Ramadhan, MBG Disajikan dalam Bentuk Makanan Kering
Kehadiran kedua jenis layanan di kawasan yang sama memberikan alternatif perjalanan yang lebih luas,” kata Anne. Merespons perkembangan pola pergerakan penumpang, KAI menetapkan penambahan frekuensi pemberhentian kereta api antarkota lewat penyesuaian Grafik Perjalanan Kereta Api (GAPEKA) 2026 yang berlaku efektif mulai 1 Desember 2026.
Langkah strategis ini dirancang untuk mendistribusikan penumpukan penumpang yang selama ini terpusat di stasiun utama tengah kota. Pada Stasiun Bekasi, jumlah perjalanan kereta api jarak jauh yang melayani pemberhentian meningkat dari semula 136 menjadi 139 perjalanan.
Penambahan tiga perjalanan di stasiun ini meliputi KA Manahan nomor 59 relasi Solo Balapan–Gambir, KA Bangunkarta nomor 176 relasi Pasar Senen–Jombang, serta KA Tegal Bahari nomor 226 relasi Pasar Senen–Tegal. Peningkatan pemberhentian paling banyak terjadi di Stasiun Cikarang yang mendapat tambahan enam perjalanan, dari sebelumnya 52 menjadi 58 perjalanan.
Baca Juga:Gandeng Joglosemar, KAI Wisata Perkuat Layanan Transportasi Terintegrasi
Tambahan tersebut melingkupi KA Manahan nomor 61 relasi Solo Balapan–Gambir, KA Pangandaran nomor 128 relasi Gambir–Sidareja, KA Parahyangan nomor 133 relasi Bandung–Gambir, KA Parahyangan nomor 134 relasi Gambir–Bandung, KA Singasari nomor 149 relasi Blitar–Pasar Senen, serta KA Tawangjaya Premium nomor 213 relasi Semarang Tawang–Pasar Senen. Stasiun Jatinegara turut mengalami penambahan pemberhentian dari 94 perjalanan menjadi 96 perjalanan kereta api jarak jauh.
Penyesuaian di Stasiun Jatinegara disumbang oleh operasional KA Cakrabuana nomor 123 relasi Cirebon–Gambir dan KA Gumarang nomor 178 relasi Pasar Senen–Surabaya Pasarturi.
“Dengan adanya tambahan pilihan pemberhentian, masyarakat dapat menyesuaikan lokasi keberangkatan atau kedatangan dengan kebutuhan perjalanan masing-masing. Bagi sebagian pelanggan, hal ini dapat memberikan alternatif untuk mengakses perjalanan antarkota tanpa harus selalu memilih stasiun utama di pusat Jakarta,” ujar Anne.
Langkah perluasan titik singgah perjalanan antarkota di Bekasi, Cikarang, dan Jatinegara berjalan selaras dengan tren kenaikan jumlah penumpang KAI Group secara nasional.
Sepanjang kurun Januari–Oktober 2026, KAI Group mencatat akumulasi pencapaian dengan melayani hingga 442.529.105 pelanggan. Angka pencapaian KAI Group tersebut mengalami kenaikan 6,86 persen bila disandingkan dengan periode serupa pada 2025 yang berada di angka 414.116.947 penumpang.
Khusus untuk segmen layanan kereta api jarak jauh dan lokal KAI, total volume pengguna menyentuh 49.932.766 pelanggan, tumbuh 8,99 persen dari periode tahun lalu sebanyak 45.814.275 penumpang.
“Perkembangan wilayah perlu diikuti dengan pilihan transportasi yang sesuai dengan aktivitas penduduknya. Melalui penambahan pemberhentian dalam GAPEKA 2026, kami ingin masyarakat di Bekasi, Cikarang, dan kawasan sekitarnya memiliki lebih banyak pilihan untuk terhubung dengan berbagai kota di Jawa menggunakan kereta api,” tutup Anne. (*/)







